4 Hal dasar yang harus Anda pahami tentang Jamsostek/BPJS Ketenagakerjaan

Sejarah Jamsostek

Kata Jamsostek adalah singkatan dari  " Jaminan Sosial Tenaga Kerja". Jamsostek ini bermula dari adanya kewajiban sebuah negara untuk memberikan kesejahteraan ekonomi dan sekaligus melindungi para pekerja di negara tersebut melalui Jaminan Sosial. Jamsostek sebagai bagian dari Jaminan Sosial (Social Security) menerapkan sistem funded social security,  yang artinya bahwa penyelengaraan jaminan sosial oleh Jamsostek ini adalah sifatnya didanai (funded) oleh peserta. Dalam hal ini peserta Jamsostek adalah para pekerja di sektor formal.


Sebagai institusi, Jamsostek merupakan sebuah Perusahaan dibawah pemerintah (salah satu BUMN) yang menyelenggarakan jaminan sosial bagi para perkerja sektor formal. Pendirian Jamsostek ini merupakan pelaksanaan dari lahirnya UU No.3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). Baru kemudian di sahkan oleh Pemerintah melalui PP No.36/1995 ditetapkannya PT Jamsostek (persero) sebagai badan penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Secara hukum, Jamsostek merupakan perubahan dari Perusahaan Umum (Perum) Astek, yaitu sebuah perusahaan yang dibentuk oleh pemerintah untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah (PP) No.33 tahun 1977 tentang pelaksanaan program asuransi sosial tenaga kerja (ASTEK).

Tujuan Mulia Jamsostek

Secara umum, Jamsostek bertujuan untuk memberikan manfaat kepada pekerja dalam hal  kecelakaan kerja, kematian, pemeliharaan kesehatan dan penghasilan di hari tua. Sedangkan tujuan lain dari Jamsostek ini adalah sebagai pengumpul dana untuk pembangunan ekonomi di Indonesia. Walaupun didalam penyelenggaraannya Jamsostek masih terseok-seok dengan bermacam-macam masalah, namun perannya memang dibutuhkan oleh para pekerja untuk jaminan sosial dan oleh pemerintah untuk mendukung pembangunan perekonomian.
Apakah saat ini Jamsostek sudah mencapai tujuan mulianya? Jawabannya tergantung siapa yang menjawabnya. Jika menurut opini pribadi penulis, Jamsostek belum mencapai tujuan mulianya.
Dari kepesertaaan pekerja; di usia 34 tahun (2011) Jamsostek belum dapat menjamin semua para pekerja sektor formal, dari sekian juta pekerja sektor formal yang ada di Indonesia, hanya sebagian saja yang terdaftar oleh Jamsostek. Sebagian lain pekerja di sektor formal belum terdaftar sebagai peserta Jamsostek. Entah karena "kemalasan" pengusaha untuk mendaftarkan karyawan nya ke Jamsostek, karena membebani keuangan karyawan atau juga entah karena kurang "GREGET" nya Jamsostek bersosialisasi atau "menakuti" para pengusaha untuk mendaftarkan karyawannya ke program Jamsostek.
Dari Pengelolaan Dana Peserta; Jumlah dana yang terkumpul selama 34 tahun beroperasi tentu tidak sedikit, bisa saja jumlah nol nya berdigit-digit. Namun, sebagian dari dana tersebut itu tidak jelas siapa pemiliknya. Mungkin dana "gak jelas" tersebut dari karyawan yang pindah kerja namun tidak melaporkannya ke Jamsostek, itu salah satu saja. Salah banyak lainnya, tentu PT Jamsostek (persero) sendiri yang tahu karena apa.

[iklan]

Empat Jenis Program Jamsostek

Jamsostek memiliki 4 (empat) jenis program atau dapat juga disebut produk (dalam bahasa komersilnya), yaitu sebagai berikut;
- Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
- Program Jaminan Kematian (JK)
- Program Jaminan Hari Tua (JHT)
- Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK)
Program Jaminan Kecelakaan Kerja merupakan jaminan yang berguna apabila ada karyawan yang mengalami kecelakaan kerja. Akibat yang ditimbulkan karena adanya kecelakaan kerja ini bisa saja kematian atau cacat tetap. Karena kesehatan karyawan merupakan tanggug jawab dari pengusaha, maka pengusaha wajib membayar iuran jaminan kesehatan kerja ini. Adapun iuran untuk jaminan kecelakaan kerja adalah  berkisar antara 0.24% - 1.74% sesuai kelompok jenis usaha. Manfaat dan tata cara pengajuan klaim Jaminan Kecelakaan kerja ini dapat di download disini.
Program Jaminan Kematian merupakan jaminan yang diberikan kepada ahli waris dari karyawan yang meninggal bukan karena kecelakaan kerja. Manfaat jaminan kematian ini diperlukan untuk keluarga yang ditinggalkan, dan pengusaha wajib membayar iuran sebesar 0.3%. Manfaat dan tatacara pengajuan klaim Jaminan Kematian dapat di download disini.
Program Jaminan Hari Tua memberikan manfaat kepada pekerja saat usia tua (usia pensiun) dalam hal membantu untuk tetap menerima sejumlah uang sebagai pengganti penghasilan selama aktif bekerja. Berbeda dengan JKK dan JK, jaminan hari tua ini dibayarkan oleh 2 (dua) pihak, yaitu pengusaha dan pekerja sendiri. Adapun iuran untuk pengusaha adalah 3.7% dan untuk pekerja 2%. Manfaat dan tata cara pengajuan klaim Jaminan Hari Tua  ini dapat di download disini.
Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan memberikan jaminan perawatan kepada pekerja jika pekerja mengalami sakit selama aktif bekerja. Selain kepada pekerja, jaminan pemeliharaan kesehatan ini juga diperuntukan keluarga dari pekerja. Iuran JPK ini dibayarkan oleh pengusaha dengan iuran 3% untuk pekerja yang belum menikah dan 6% untuk yang sudah menikah.
Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan dari Jamsostek ini biasanya tidak diikuti oleh semua pengusaha, karena biasanya mereka telah menggantinya dengan asuransi kesehatan yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi. Dan praktek seperti ini bisa dilakukan, selama jaminan kesehatan untuk pekerja dan keluarganya sama atau bahkan lebih baik dari program JPK dari Jamsostek.
Manfaat dan tata cara pengajuan klaim Jaminan Pemeliharaan Kesehatan  ini dapat di download disini.

Jamsostek sebagai "Beban" Pengusaha

Seperti yang telah disinggung diatas, salah satu penyebab Jamsostek belum mencapai tujuan mulia nya adalah, karena kurang "GREGET" nya Jamsostek untuk memberi pengertian kepada Pengusaha bahwa program Jamsostek adalah program yang bermanfaat untuk pekerja dan keluarganya. Hal ini juga berkaitan dengan masih "bandel" nya para pengusaha untuk mendaftarkan para pekerjanya ke Jamsostek. Salah satu alasan mereka adalah karena iuran untuk membayar Jamsotek yang disetorkan setiap bulannya merupakan beban perusahaan. Dari pada menambah beban perusahaan, lebih baik digunakan untuk menambah modal atau berekspansi. Mungkin itulah salah satu pikiran para "oknum" pengusaha yang tidak peduli dengan para pekerjanya.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh pihak Jamsostek, Pemerintah dan Pekerja untuk menyadarkan pengusaha yang seperti itu? Untuk pemerintah  dapat saja memberikan sangsi keras kepada pengusaha yang masih mangkir mendaftarkan pekerja nya ke Jamsostek atau bahkan kepada pengusaha yang telah mendaftarkan pekerjanya namun malas untuk menyetorkan iurannya.  Jamsostek sendiri dapat saja secara konkretnya kerja sama dengan pemerintah atau pihak APINDO untuk crosscheck data-data perusahaan mana saja yang telah mendaftarkan pekerjanya ke Jamsostek dan perusahaan mana yang belum.
Khusus untuk pekerja, tiada lain adalah harus berinisiatif untuk menyampaikan aspirasinya kepada pengusaha untuk mendaftarkan mereka ke program-program Jamsostek. Jika cara itu telah dilakukan, namun pengusahanya tetap enggan melakukan itu, maka laporkan saja ke pihak Depnaker setempat.


Image Source:Jamsostek.co.id
Previous
Next Post »